Dalam Diam

Mengukir kebahagiaan dalam kesunyian mungkin bukan lah hal yang mudah untuk kita lakukan. Karena terkadang sepi dapat membuat orang merasa sakit yang tak terkira. Namun sepi tak sekeji itu, dengan sepi aku mampu merangkai sebuah kata yang tak ku temukan saat aku ada ditengah-tengah mereka. Dengan sepi aku mulai menegrti bahwa sejatinya ada yang setia untuk menemaniku, namun ada pula yang memilih untuk meninggalkanku dalam diamku. Aku tak pernah memaksa untuk mereka tetap bertahan. Aku hanya ingin membuat mereka bergerak dengan bebas. Ya… karena aku tak ingin dikekang.

Namun kini aku hanya bisa terdiam, dalam diam yang tak kunjung beranjak. Aku hanya bisa mendengar desahan napasku. Tanpa aku dengar tawa, tanpa aku bisa melihat senyuman manis dari kalian. Kini aku mulai melangkah untuk pergi. Aku tak pernah berpikir akan bertemu dengan waktu ini. Aku selalu berharap aku akan selalu menjadi aku yang selalu ada. Namun kini aku katakan TIDAK. Aku tak bisa menjadi aku yang selalu ADA. Aku janya bisa menjadi apa yang aku inginkan. Keinginanku teramat besar untuk bertahan. Namun suara lirih itu mulai membuatku tersadar. Aku masih mempunyai HARTA yang amat berharha. Tak bisa aku bayar dengan keinginan ku itu. Bagiku HARTA itu tak ada gantinya. Aku kini menyadari itu. Bahwa sebagai buah hati…ada hal yang sering kita lupakan. Memilih untuk menggapai keinginan kita tanpa melihat sekeliling kita. Terutama HARTA itu, bagiku mereka adalah HARTA terbesar yang ingin selalu aku jaga. Melebihi aku ketika menjaga diriku.

Namun inilah aku, aku tak sepandai menulis saat harus bercerita. Bahkan aku tak bisa memeluk mereka hanya untuk membagi kisahku. Aku amat takut akan sebuah kesulitan yang akan aku bagikan. Ya… kini aku hanya memilih untuk diam. Tanpa tahu arah kemana aku harus menyandarkan kepalaku, yang kini mulai terasa berat. Kini aku tak tahu bagaimana aku akan tersenyum hanya untuk menyembunyikan apa yang aku rasakan. Ya… kini aku terjebak dalam NERAKA SEPI. Karna tak lagi kutemukan lentera yang mampu mebuatku tersenyum kembali. Kini aku memilih untuk berdiri sendiri. Meski aku sangat tak sanggup, aku tahu ini. Namun inilah aku, yang hanya bisa merasakan sakit dalam diamku.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s