Sekelumit Memori

Dahulu setiap kali kutolehkan kepala ini, selalu kulihat senyum dan mata sipit dari sudut wajahmu. Tanpa ku toleh pun selalu ku dengar suara khas dan batuk kecil dari mu. Tak hanya itu, aku pun masih ingat bau khas parfum yang selalu engkau gunakan. Dengan balutan jaket coklat dan penutup kepala, kau selalu datang dengan misterius. Hingga seringkali aku tak sadar bila kau selalu ada disisi. Ya..itu adalah sekelumit memori sederhana yang selalu aku ingat. Bagian kecil dari hal-hal yang aku rindukan kini.

Aku masih ingat, saat pagi-pagi aku bangun hanya untuk membuatkan makanan kesukaanmu. Tak suka pedas, tak suka asin, dan suka yang manis. Itu semua adalah rasa yang ku tahu. Hampir setiap hari aku coba untuk membuat masakan yang sekiranya membuatmu tersenyum. Aku masih ingat masakan pertama yang pertama kali kau cicipi adalah tumis kangkung. Mungkin itu cukup sederhana, namun aku sangat ingat itulah makanan kesukaanmu. Dan aku masih selalu ingat setiap kali aku membawa nasi goreng, kau selalu bersemangat untuk melahapnya. Kita tak butuh restoran termahal untuk sekedar merasakan masakan. Kau hanya memilih masakan sederhanaku dan memakan nya diantara gemuruh teman-teman kita. Kelas ya tempat itu yang selalu engkau pilih.

Masih ingatkah kau? Seringkali kau lontarkan senyum saat bekal itu kau habiskan tanpa sisa. Namun aku sangat kecewa…saat aku pernah membawa bekal yang tak kau suka. Sedih itu pasti tapi bukan karena dia tak mau memakannya. Namun kesalahan ku yang belum pernah bertanya makanan apa yang tak kau suka. Saat itu aku hanya terdiam dan kau terus tersenyum menenangkanku. Kau memang selalu tahu apa yang sedang aku rasa.

Keajaiban itu juga kembali hadir. Saat ragaku sudah terlelap dalam mimpiku, aku terbangun tanpa sebab. Resah, takut, sedih dan wajahmu itu yang aku rasa serta aku bayangkan. Mungkin rasa itu yang dikirim oleh-Nya untuk ku ketahui. Ya..kabar saat kau mengalami kecelakaan itu sangat memukulku. Aku hanya bisa menangis merintih karena tak bisa bersamamu. Justru saat kau sedang membutuhkan ku. Mungkin saat itulah aku benar-benar merasa paling bersalah. Aku hanya bisa berdoa tanpa bisa melihat senyum yang mungkin kian memudar. Betapa bahagianya diriku saat aku bisa menjumpaimu. Dengan melihat senyummu saja itu bisa menghapuskan kegundahan dan kekhawatiranku. Aku hanya bisa menangis dipelukan Mama mu. Dan aku masih ingat hanya ada senyum yang kau lontarkan kepadaku.

Kini aku rindu semua cerita tentang kita. Aku rindu saat aku harus berpikir menu apa yang harus aku hidangkan. Aku sangat rindu akan mata sipit yang selalu menatapku dengan teduh. Ya.. aku rindu. Tak banyak yang aku inginkan, jangan buat aku menangis kembali karena kecerobohanmu. Jangan buat aku mati rasa lagi, karena luka yang kau derita. Aku ingin kau selalu dapat tersenyum sembari menatapku dengan mata teduh itu. Karna kau bukan hanya pasangan hidup yang kini aku punya namun kau adalah teman hidupku.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s