Sabda Cinta

PART 1
Penantian adalah hal terkeji dalam sebuah kehidupan. Begitulah yang dirasakan oleh Ana saat ini. Ana adalah seorang gadis sederhana yang dilahirkan ditengah-tengah keluarga agamis. Begitu kentalnya ajaran agama yang ia jumpai disetiap harinya hingga membuat ia tak mampu berkutik dengan godaan dunia yang ada. Ia kini sedang menyelesaikan studinya di sebuah universitas ternama di Yogyakarta jauh dari keluarganya. Meskippun begitu ia senantiasa tak lupa dengan ajaran agama yang semenjak kecil telah ia peroleh.
Ana bukanlah gadis yang biasa, meskipun penampilannya yang sederhana namun ia memiliki paras yang cantik. Tak sebatas itu, dia juga teramat cerdas untuk sosok sederhana dari pelosok desa. Hal itu tentu tak dapat dipungkiri oleh semua lealaki yang ada disekitarnya untuk dapat memilikinya. Namun begitulah Ana, gadis yang teramat patuh dengan kehendak Abinya walaupun beliau takan pernah tahu apabila Ana sedikit melanggar perintah beliau. Abi Ana terkenal amat menentang apabila anaknya menjalin sebuah hubungan dengan seorang lelaki. Peraturan tersebut tak hanya dirasakan oleh Ana namun kakak Ana yang kini telah beristri merasakan hal yang sama. Hingga pada akhirnya beliau dipertemukan oleh Mbak Tyas. Butuh waktu lama untuk mendapatkan ridho Abi Ana dan Mas Tiyo tersebut.
Meskipun ada peraturan yang harus selalu ia patuhi, Ana tak membatasi pergaulanya untuk tidak bergaul dengan lawan jenisnya. Inilah yang membedakan dia dengan perempuan yang lain, ia sangat senang bertukar pikiran dengan teman-temannya terutama dalam hal sosial politik. Meski itu bukanlah bidangnya, namun ada satu dorongan besar dari hati Ana untuk mengetahui perkembangan kehidupan sosial politik di sekitarnya. Begitu besar keinginan Ana untuk membangun lingkungan sosial disekelilingnya terutama dalam hal pendidikan. Itulah yang membuat Ana ikut menjadi relawan di sebuah Rumah Singgah untuk anak-anak yang kurang beruntung di Yogyakarta.
Memang tak dapat dipungkiri, selama ia menyelesaikan studinya ada banyak lelaki yang berusaha merebut hatinya. Dari yang diam-diam mengirimkan perhatian hingga yang terang-terangan mengutarakan perasaannya. Namun bukan Ana apabila ia tak mampu berkata dengan indah sekalipun itu untuk menolak. Hingga para lelaki itu justru malu atas apa yang telah mereka lakukan. Begitulah Ana, lebih memilih untuk menjalin kasih dengan anak-anak malang di pinggiran bantaran sungai Bengawan Solo dari pada memilih salah satu diantara para lelaki tersebut.
Hingga pada suatu ketika pertahanan yang Ana buat mulai retak karena sosok santun itu. Dialah Affa, sosok lelaki sederhana yang membuat Ana kagum akan perilakunnya. Affa merupakan salah satu relawan baru di Rumah Singgah. Dia adalah staf dosen baru di Universitas Gajah Mada. Terhitung baru karena beliau baru saja pindah dari Bandung unntuk menjadi dosen di Yogyakarta. Awal pertemuan yang begitu indah mungkin itu yang dapat tergambarkan. Melalui lantunan suara merdu Affa dalam ayat-ayat suci Nya membuat Ana merasa nyaman dengan suara tersebut. Sungguh suara Affa benar-benar membuat Ana ingin selalu mendengar suara tersebut.
Hanya doa lah yang mampu Ana lantunkan untuk mewujudkan asanya terebut, bertemu dan mengenal lebih dalam dari sosok lelaki pemilik suara indah tersebut. Tak pernah Ana lupa disetiap akhir doanya dia selalu berdoa agar dipertemukan oleh sosok tersebut. Hingga pada suatu hari Ana dipertemukan oleh Affa dalam sebuah pertemuan relawan Rumah Singgah. Suara itu, suara lembut yang begitu menghanyutkan Ana kembali ia dengar. Hanya senyum penuh makna yang Ana lontarkan. Begitu indah takdir yang Allah telah berikan kepadanya. Namun disaat ketentraman itu mulai Ana rasakan ada pertentagan yang sangat sengit dalam hatinya. Dia kembali teringat akan sebuah pertahanan yang telah ia bangun jauh sebelum ia ada di tempat ini. Kini hanya lafazh-lafzah-Nya yang mapu memalingkan perasaan Ana akan sosok sederhana tersebut.
Kini Affa telah mengenal sosok Ana, gadis sederhana yang sangat mempesona tersebut. Semakin hari Ana dan Affa semakin kerap bertukar pikiran mengenai kemajuan Rumah Singgah terebut. Tak sedikitpun pembicaraan mereka yang luput dari perdebatan antara satu dengan yang lain. Tapi itulah yang membuat Ana semakin tak mampu untuk menahan gelora rasa yang ada di dalam hatinya. Kini di setiap akhir doanya Ana selalu bermunajat untuk selalu dijaga hatinya dan tak luput pula doa untuk lelaki yang akan menjadi tambatannya kelak. Karana kini bagi Ana tak ada yang lain yang memiliki hatinya terkecunali Sang Illahi. Dan hanya doa yang mampu mempertemukan Ana dengan sosok tegap dengan penuh kesederhanaan tersebut. Karena kini hanya asa yang mampu Ana bangun dalam setiap lantunan doa nya.
******

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s